Thursday, March 18, 2010
Hari ini saya berangkat kerja lebih awal, karena harus menuntaskan pekarjaan kemaren yang belum selesai. Ketika berada di depan tempat bekerja dan hendak membuka pintu saya melihat sesuatu yang luar biasa di perempatan di depan tempat kerjaku. Aku melihat kira-kira lebih dari 2000 remaja putra dan putri yang memakai seragam sekolah kebanggan masing-masing.
Dari raut wajahnya terlihat banyak sekali hal yang berbeda, ada yang tampak biassa saja ada juga yang tampak cemas ataupun sedih, tidak ketinggalan siswa yang berseri-seri penuh dengan kedamaian. Mungkin yang tampak biasa saja atau yang sedang gembira adalah mereka yang masih kelas X atau XI, tapi hat itu tidak berlaku lagi bagi mereka yang kelas XII. Karena sebentar lagi mereka akan mengalami sejarah sepanjang hidupnya.
Ujian akhir nasional (UAN) itulah nampaknya yang menghantui mereka, sehingga tampak gelisah. UAN memang menjadi kontrofesi tetapi tetap saja mereka harus melakukanya demi masa depan. Ungkin dalam benak mereka terlintas angan “andaikan saja UAN tidak ada”, jika hal itu terjadi alankah senanya mereka.
Dari raut wajahnya terlihat banyak sekali hal yang berbeda, ada yang tampak biassa saja ada juga yang tampak cemas ataupun sedih, tidak ketinggalan siswa yang berseri-seri penuh dengan kedamaian. Mungkin yang tampak biasa saja atau yang sedang gembira adalah mereka yang masih kelas X atau XI, tapi hat itu tidak berlaku lagi bagi mereka yang kelas XII. Karena sebentar lagi mereka akan mengalami sejarah sepanjang hidupnya.
Ujian akhir nasional (UAN) itulah nampaknya yang menghantui mereka, sehingga tampak gelisah. UAN memang menjadi kontrofesi tetapi tetap saja mereka harus melakukanya demi masa depan. Ungkin dalam benak mereka terlintas angan “andaikan saja UAN tidak ada”, jika hal itu terjadi alankah senanya mereka.


